Senin, 16 April 2012

Industri Otak dan Kegalauan Orang Minang

Orang “awak” jika me­nelisik sosio-kulturalnya pen­didikan di daerahnya, pastilah tak pernah meninggalkan aspek kajian sejarah masa lalunya yang gemilang ter­bilang itu, hingga tersebutlah nama-nama seperti, Hatta, Hamka, Tan Malaka, Syahrir, Agus Salim dan seterusnya. Nama-nama, “urang awak” yang tak terlupakan dalam perjalanan pementas pe­radaban nasional kita.

Ini adalah fakta sejarah yang memperkuat kein­telek­tualan orang Minang masa lalu. Sekaligus, sebagai pi­jakan yang digunakan bahwa orang Minang itu orang ter­didik, intelek dan terpelajar. Pertanyaan selanjutnya, me­ngapa orang Minang itu ter­didik, apakah di Minang itu ada mesin-mesin pencetak orang-orang yang terdidik itu? Dua pertanyaan itu wajib kita jawab, untuk menyemangati upaya kekinian dalam mem­bangun negeri ini sebagai industri otak itu.

Orang Minang terdidik itu, tentu tidak terlepas dari lokus budaya yang membentuknya. Alur sejarah orang Minang terdidik, karena adanya sistem pendidikan lokalnya terutama bagi laki-laki. Bagi laki-laki ada surau dan tradisi me­rantau yang membentuknya sebagai seorang intelektual. Sebelum orang Minang me­ngenal pendidikan modern, surau itulah membentuk karakter orang Minang be­rintelektual. Ulamalah yang berperanan, menjadikan orang Minang itu terdidik, sehingga keemasan pendidikan yang dimotori ulama ini, Minang­kabau juga tersebut sebagai “kampung ulama.”

Sedangkan merantau ada­lah tradisi pematangan orang Minang secara psikologis, ekonomis, politis dan pen­didikan. Merantau adalah sebuah pilihan strategis yang ditawarkan oleh budaya su­paya seseorang mem­ber­dayakan dirinya diluar ling­karan budayanya, sehingga ia tidak lagi sepertikatak di bawah tempurung tetapi betul-betul sudah merasakan dunia ini luas dengan segenap cakra­walanya.

Kata sosiolog Ibn Khaldun, orang yang suka merantau (nomad) jelas memiliki pola pikir, cara bertindak dan berimpovisasi berbeda dengan orang-orang yang tidak me­ngem­bara. Ejalah orang-orang Minang yang intelektual yang kita catat dalam sejarah itu, ternyata mereka besar setelah “mengecap” dunia perantauan.

Lantas dinamika tra­di­sional-modern berkembang di Minangkabau akibat pola kampung dan rantau. Kedua pola ini berkembang sampai saat sekarang.

Argumentasi tradional-modern ini tak akan pernah berkesudahan, di ranah kita. Tapi itu pula corak warna dinamika Minang kekinian. Sayangnya, corak itu dalam konteks kekinian me­ngapa terasa gersang dari keintelektualan itu, minimal terlihat dari dua tulisan yang kita potret di atas. Hingga ada yang membayangkan jika Sumbar jadi industri otak dan Asrinaldi ingin mendobrak Sumbar menjadi pusat pen­didikan.

Jika dilihat dari statistik jumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Sumbar, luar biasanya pertumbuhannya. Mengapa, kita masih ragu dengan kenyataan “sumbar sebagai industri otak” dan “pusat pendidikan”. Apakah, perguruan tinggi yang sudah berderet jumlahnya ini tidak cukup dalam mengakses anak muda negeri ini menjadi se­orang intelektual?

Mesti kita sadari untuk membangun intelektualitas dan tradisiinya itu kita me­merlukan institusi pendidikan yang berkualitas, memerlukan perguruan tinggi yang ber­kualitas, memerlukan pen­didik yang berkualitas dan seterusnya. Tentu ini sudah menjadi sebuah keharusan semua perguruan tinggi kita. Namun saja, keharusan kua­litas itu masih mengalama suasanatagurajai.

“Ketugarajian” kualitas itu, semula dituduh akibat kecilnya anggaran biaya pen­didikan. Semua lembaga pendidikan tinggi mengeluh atas kecilnya biaya tersebut. Tapi sayang, dibalik anggaran yang kecil itu, kita lupa dengan kekuatan epistimologi ilmu yang dibangun, karena lebih mementingkan dunia pasar.

Perguruan tinggi yang kondisi di dalamnya seperti supermarket, tanpa dibangun dengan kekuatan epistimologi, tentu yang terjadi adalah pengelolaan perguruan tinggi “laku kini” sekarang nanti dipikirkan. Oleh sebab itu jangan heran yang terjadi, lemah tradisi intelektual, lemah tradisi ilmiah.

Di samping kelemahan tradisi intelektual dan tradisi ilmiah itu, lembaga pen­didikan kita perguruan tinggi pengelolaannya sangat di­lemah­kan oleh tradisi po­litisasi. Hingga yang terjadi adalah, pengolaan perguruan tinggi-kampus-lembaga pen­didikan bukan atas dasar kepakaran, tetapi atas dasar perpolitikan. Inilah yang membuat tumpulnya aka­demisi, tumpulnya kerja-kerja ilmiah dan seterusnya.

Dari segi kerja ilmiah, insan akademik kita kalah bersaing dengan negara-negara tetangga. Hal ini dapat diukur, dari hasil penelitian yang dihasilkan dari buku dan jurnal yang diterbitkan di­samping dilihat dari tingkat pendidikan tenaga yang di­perolehnya.

Konon kabarnya, mengapa dikti melakukan kebijakan “sapu rata” publi­kasi ilmiah, itu salah satu alasannya adalah karena “ketertinggalan” dari negara tetangga tentang publikasi ilmiah tersebut. Lahirlah kebijakan yang disikapi pro­kontra tentang itu, bagaimana jalannya? Pada hal era 70-an, negara tetangga itu pen­didiknya didatangkan dari Indonesia.

Bagaimana dosen atau tenaga pendidik akan me­lahirkan tulisan-tulisan il­miah, jika sumber daya untuk kerja keilmiahan itu tidak dibangun di kampus. Tenga pengajar masih, mengalami sebagai “buruh” dari pabrik kampus yang hanya dimung­kinkan mengajar tatap muka, tak lebih dari itu.

Epistimologi keilmuan yang tak jelas dan rendahnya kinerja akademik ini, ternyata melahirkan “dosa” turunan. Pengangguran merupakan dosa turunan yang tak ter­hentikan.

Hampir sepuluh juta pe­ngang­guran setiap tahunnya di Indonesia, ter­nyata se­parohnya adalah tamatan pendidikan tinggi, ada apa ini? Semula dipre­diksikan akibat dari perguruan tinggi tidak ditularkan se­mangat inter­preneur, tetapi kenyataannya setelah di­padat­kan ma­ta­kuliah ke­wurausahaan masuk ke dalam beberapa jurusan yang terjadi adalah tetap saja pengang­guran elite pendidikan ini banyak jumlahnya.

Di sinilah, semakin yakin kita bahwa epistimologi ke­ilmuan itu tidak kuat di bangun oleh lembaga pen­didikan terutama perguruan tinggi. Subjek mata kuliha berjubel jumlahnya dan padat, tapi tidak memperkokoh penguasaan keilmuan. Mata kuliah itu, hanya mengajak mengenal dan tidak mengajak menguasai.

Lantas, harus bagaimana urang awak untuk membangun industri otak itu? Tidak ada pilihan selain memperkuat epistimologi keilmuan itu. Memperkuat epistimologi keilmuan tidak satu-satunya dengan jalan merubah level perguruan tinggi, seperti yang hangat diperdebatkan kon­versi, IAIN-STAIN ke Uni­versitas Islam Negeri (UIN). Toh, ITB-IPB pun tanpa meng­konversi menjadi universitas dirinya tetap menjadi per­guruan tinggi terdepan, yang terpenting adalah bagaimana epistimologi keilmuan itu jelas dan kualitasnya ditingkatkan.

Selanjutnya, kita sudah memiliki “mesin-mesin” untuk industri otak itu, tapi mesin-mesin itu tak termanfaatkan karena tak kondusifnya kam­pus untuk kerja akademik, akibat politisasi dan sarana penunjang keilmiahan yang tak memadai malahan tak terwujudkan.

Kita memiliki profesor masing-masing kampus, apa­lagi di Unand, UNP dan IAIN pasti lebih dari sepuluh orang dari masing-masing kampus itu, belum lagi bergelar doktor jumlahnya tentu lebih banyak dari profesor.

Ini adalah aset untuk industri otak itu, jika perguruan tinggi betul-betul tidak menjadikan mereka sebagai “buruh” akademik. Tetapi menjadikan mereka sebagai akademisi yang mem­bangun keilmiahan dengan memperhatikan sarana-sarana peningkatan kualitas ke­ilmiahan tersebut.

Oleh: Indra Piliang

0 Komentar Aje':

Posting Komentar